MAKALAH
MANUSIA DAN HARAPAN
MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DASAR
Disusun oleh :
Firdaus (12117382)
1KA04
Fakultas Ilmu Komputer & Teknik Informatika
Universitas Gunadarma
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, Atas Rahmat dan Karunia-NYA maka kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah Manusia dan Keindahan sebagai bahan materi pembelajaran.
Penyusunan makalah ini adalah merupakan
salah satu tugas agar mahasiswa terlatih guna meningkatkan motifasi belajar
mahasiswa.
Dalam penyusunan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan baik teknis penyusunan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran sangat saya
harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Rafiqa Maulidia selaku dosen pembawa
mata kuliah Ilmu Budaya Dasar ini.
Wassalamualaikum Wr.Wb
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada
dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan atau berdampingan. Setiap
manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati
dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya
berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan bergantung pada pengetahuan,
pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Harapan
juga harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun
kepercayaan kepada Allah SWT. Agar harapan bisa terwujud, maka manusia harus
berusaha dengan sungguh-sungguh dan diikuti dengan berdo’a kepada Allah SWT.
Hal ini disebabkan karena harapan dan kepercayaan tidak dapat dipisahkan.
Harapan dan kepercayaan merupakan bagian dari hidup manusia selama di dunia
karena setiap manusia mempunyai harapan dan kepercayaan kepada Allah SWT.
B. Tujuan
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu mengembangkan,
memahami dan dapat menjelaskan bagaimana bentuk suatu harapan pada setiap
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. PENGERTIAN
MANUSIA
Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha
Esa yang paling sempurna dari mahluk lain ciptaanNya. Manusia dikatakan mahluk
yang paling sempurna karena
manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan
bisa membatasi diri dengan perbuatan yang dilakukannya. Manusia dapat memilih
perbuatn apa yang akan dia lakukan mulai dari perbuatan yang positif maupun
negatif. Secara umum, manusia juga merupakan mahluk pribadi sekaligus mahluk
sosial. Karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan manusia lain
dalam kelangsungan hidupnya.
II.2. PENGERTIAN HARAPAN
Harapan berasal dari kata harap. Artinya supaya
sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang belum terwujud. Sedangkan harapan itu
sendiri mempunyai makna sesuatu yang terkandung dalam hati setiap orang yang
datangnya merupakan karunia dari Allah SWT yang sifatnya terpatri dan sukar
dilukiskan. Yang mempunyai harapan atau keinginan itu hati. Putus harapan
berarti putus asa. Dan agar harapan dapat dicapai, memerlukan kepercayaan pada
diri sendiri, kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada Allah SWT.
Harapan
atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan
didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan diwaktu yang akan datang.
Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak namun diyakini bahkan
terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya
harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang
mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdo’a.
Setiap
orang mempunyai berbagai cara untuk memenuhi harapannya atau keinginannya, baik
dengan cara yang dibenarkan maupun dengan cara yang dilarang oleh norma-norma
agama dan hukum. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
pelanggaran dalam usahanya mencapai apa yang diharapannya, misalnya : faktor
lingkungan sosial, ekonomi, pendidikan, tidak adanya landasan iman yang kuat,
kurang rasa percaya diri, dan kurang pendidikan mental. Dari semua itu dapat
berakibat buruk pada diri sendiri.
Beberapa
pendapat menyatakan bahwa esensi harapan berbeda dengan berpikir positif yang
merupakan salah satu cara proses sistematis dalam psikolog untuk menangkal
pikiran negatif atau berpikir pesimis.
II.3. HUBUNGAN MANUSIA DAN HARAPAN
Harapan
dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan
supaya sesuatu itu terjadi. Dalam menantikan adanya sesuatu yang terjadi dan
diharapkan, manusia harus melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di luar
dirinya supaya sesuatu terjadi atau terwujud.
Menurut
macamnya ada harapan yang optimis dan harapan pesimistis (tipis harapan).
Harapan yang optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan
tanda-tanda yang dapat dianalisis secara rasional, bahwa sesuatu yang akan
terjadi akan muncul pada saatnya. Dan harapan yang pesimistis ada tanda-tanda
rasional tidak akan terjadi.
Harapan
itu ada karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan keinginannya atau
maunya. Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda, orang yang berpikir
luas, harapannya pun akan luas. Begitupun sebaliknya, orang yang berpikir
sempit maka harapannya juga akan sempit.
Harapan
itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya dengan
pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal-hal sebagai
berikut :
Harapan apa yang baik
Bagaimana cara mencapai
harapan itu
Bagaiman bila harapan tidak
tercapai
Jika
manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat
juga, maka sudah selayaknya harapan manusia untuk hidup di kedua tempat
tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara
dunia dan akhirat, dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada
hari ini. Namun kita sebagai manusia harus sadar bahwa harapan tidak selamanya
menjadi kenyataan dan terwujud.
II.4. SEBAB MANUSIA
MEMILIKI HARAPAN
Menurut kodratnya
manusia itu adalah makhluk sosial. Setiap manusia lahir ke dunia ini langsung disambut
dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota
masyarakat lainnya. Di tengah-tengah manusia lain itulah seseorang dapat hidup
dan berkembang fisik dan jasmani, serta mental dan spiritualnya.
Ada
dua hal yang mendorong manusia hidup bergaul dengan manusia lain, yaitu :
dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan Kodrat
Kodrat
ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri
manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Allah SWT. Misalnya : menangis,
bergembira, berpikir, bercinta, berjalan, berkata, dan mempunyai keturunan.
Setiap diri manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua dan dorongan kodrat
menyebabkan manusia mempunyai keinginan dan harapan.
Dalam
diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan
untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia
lain. Dengan kodrat ini manusia dapat mempunyai harapan.
Dorongan Kebutuhan Hidup
Sudah
menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup.
Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani
dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani, misalnya makan, minum, pakaian, dan
rumah. Sedangkan kebutuhan rohani, misalnya kebahagiaan, kepuasan,
keberhasilan, hiburan dan ketenangan.
Untuk
memenuhi semua kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain.
Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan
fisik maupun kemampuan berpikir. Dan dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan
kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan, karena pada hakekatnya
harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sehubungan
dengan kebutuhan-kebutuhan manusia itu, Abraham Maslow mengkategorikan
kebutuhan manusia menjadi macam. Lima macam kebutuhan itu merupakan lima
harapan manusia, yaitu :
1.
Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival)
2.
Harapan untuk memperoleh keamanan (safety)
3.
Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai
(being loving and love)
4.
Harapan untuk memperoleh status atau diterima atau diakui lingkungan
(status)
5.
Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self-actualization)
II.5. HARAPAN DAN KEPERCAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya
mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang
berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dalam agama
terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap sebagai wahyu dari Allah SWT.
Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Dalam hal
beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang
beragama itu, dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Harapan
dan kepercayaan saling melengkapi. Karena dalam memenuhi atau mewujudkan
harapan, manusia harus berusaha dan berdo’a. Dengan berusaha dan berdo’a
sungguh-sungguh kepada Allah SWT serta mempercayai adanya Allah SWT,
harapan akan terwujud dan terpenuhi.
BAB III
PENUTUP
Pada
dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan atau berdampingan.
Setiap manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa harapan berarti manusia
itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan,
biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan bergantung pada
pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Harapan
atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan
didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan diwaktu yang akan datang.
Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak namun diyakini bahkan
terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya
harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang
mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdo’a.
Harapan
seseorang juga ditentukan oleh kiprah usaha atau bekerja kerasnya seseorang.
Orang yang bekerja keras akan mempunyai harapan yang besar. Dan untuk
memperoleh harapan yang besar tetapi kemampuannya kurang, biasanya disertai
dengan unsur dalam, yaitu berdo’a.
Sekian dan terima kasih.
Wasalamuallaikum warrahmatullahi
wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar